Sunday, July 28, 2013

Semendung Claudya

Aku Audy, Claudya Destianira. Kalian pasti bisa menebak aku lahir pada bulan apa, pasti bulan Desember bukan?. Ya, aku lahir pada bulan Desember dimusim penghujan. Claudya diambil dari kata Inggris (Cloud) yang memiliki arti mendung, karena aku lahir dibulan Desember yang mendung. Apalah arti sebuah nama, aku tidak ingin membahasnya lagi.
Aku terdaftar sebagai mahasiswa Komunikasi disebuah Institut Negeri di kotaku, ada seseorang yang membuatku terobsesi untuk memilih bidang broadcasting padahal aku tidak tahu apa – apa. Ketika itu aku berusaha keras untuk dapat di terima di Institut Negeri tersebut, seseorang telah menyemangatiku.
Seseorang yang sangat aku sayangi sampai detik ini, seseorang yang tak pernah luput dari benak dan fikiranku. Dia adalah Rival, Rivaldi Sebastian nama lengkapnya. Dia lebih tua 2 tahun dariku, dia kakak kelasku sewaktu SMP, tapi tuhan tidak menakdirkan kami untuk satu SMA. Sewaktu SMP aku tidak mengenalnya, tapi akhirnya kami bisa berkenalan dan “dekat”. Aku tidak ingin menceritakan bagaimana kami bisa “dekat”.
Singkatnya, aku sudah 2 tahun berpacaran dengannya. Dua tahun sangatlah singkat, selama itu aku menyembunyikan hubunganku dari orang tuaku. Aku yakin, orang tuaku tidak akan mengizinkan aku untuk berhubungan dengannya. Aku tahu, dia pasti keberatan kalau tanpa persetujuan orang tua. Aku sudah berulangkali mengungkit-ungkit hal ini, tapi dia hanya berkata “Udah, jalani dulu aja. Let it flow aja”, aku sudah tidak tahu harus berkata apa karena pasti kalimat itu yang keluar dari mulutnya.
Satu tahun pertama hubungan kami baik – baik saja, bahkan kami tidak pernah bertengkar. Bayangkan, dalam satu tahun kami tidak pernah bertengkar, itu sangat mustahil bukan?

Thursday, January 3, 2013

Habibie’s Letter


Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu
Karena, aku tahu semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi,
aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah ternyata bahwa kematian itu
benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang,
sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku nelangsa setengah mati,
hatiku seperti tak di tempatnya,
dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.