Sunday, July 28, 2013

Semendung Claudya

Aku Audy, Claudya Destianira. Kalian pasti bisa menebak aku lahir pada bulan apa, pasti bulan Desember bukan?. Ya, aku lahir pada bulan Desember dimusim penghujan. Claudya diambil dari kata Inggris (Cloud) yang memiliki arti mendung, karena aku lahir dibulan Desember yang mendung. Apalah arti sebuah nama, aku tidak ingin membahasnya lagi.
Aku terdaftar sebagai mahasiswa Komunikasi disebuah Institut Negeri di kotaku, ada seseorang yang membuatku terobsesi untuk memilih bidang broadcasting padahal aku tidak tahu apa – apa. Ketika itu aku berusaha keras untuk dapat di terima di Institut Negeri tersebut, seseorang telah menyemangatiku.
Seseorang yang sangat aku sayangi sampai detik ini, seseorang yang tak pernah luput dari benak dan fikiranku. Dia adalah Rival, Rivaldi Sebastian nama lengkapnya. Dia lebih tua 2 tahun dariku, dia kakak kelasku sewaktu SMP, tapi tuhan tidak menakdirkan kami untuk satu SMA. Sewaktu SMP aku tidak mengenalnya, tapi akhirnya kami bisa berkenalan dan “dekat”. Aku tidak ingin menceritakan bagaimana kami bisa “dekat”.
Singkatnya, aku sudah 2 tahun berpacaran dengannya. Dua tahun sangatlah singkat, selama itu aku menyembunyikan hubunganku dari orang tuaku. Aku yakin, orang tuaku tidak akan mengizinkan aku untuk berhubungan dengannya. Aku tahu, dia pasti keberatan kalau tanpa persetujuan orang tua. Aku sudah berulangkali mengungkit-ungkit hal ini, tapi dia hanya berkata “Udah, jalani dulu aja. Let it flow aja”, aku sudah tidak tahu harus berkata apa karena pasti kalimat itu yang keluar dari mulutnya.
Satu tahun pertama hubungan kami baik – baik saja, bahkan kami tidak pernah bertengkar. Bayangkan, dalam satu tahun kami tidak pernah bertengkar, itu sangat mustahil bukan?

Kami satu kampus dan satu major, dia adalah seniorku di kampus. Kami mengambil D3 Komunikasi, tahun ini dia lulus dan aku harus meneruskan satu tahun lagi. Aku sangat menikmati semua kegiatanku yang padat. Rival selalu ada untukku ketika aku membutuhkannya, kami saling bertukar cerita tentang kuliah kami dan aku juga sering meminta bantuannya untuk menyelesaikan tugas – tugas kuliahku.
“Au, ayo kita makan siang di kantin. Kamu pasti laper kan?” siang itu Rival ke kelasku dan mengajakku makan. Tanpa ragu aku langsung menarik tasnya menuju kantin.
Kami selalu menghabiskan waktu bersama di kampus, kami pasti bersama ketika istirahat dan aku selalu diantar jemput olehnya.
“Mas, besok kan libur ya. Main dong ke rumah aku, mau yayayaaaaa..” kataku sambil merengek memintanya datang ke rumah. Dia hanya tersenyum dan mengacak –acak rambutku.
Aku tahu apa yang difikirkannya, dia agak canggung kalau datang ke rumahku karena kebohongan. Aku  berbohong pada orang tuaku, aku selalu bilang pada mereka Rival hanyalah temanku. Tapi nyatanya kita tidak berteman, hubungan kami sudah cukup lama. Itulah yang membuat Rival canggung mengunjungi rumahku. Tapi dia tidak pernah marah kalau aku harus berbohong seperti itu, dia sudah mengerti situasinya.
Jika Rival mengunjungi rumahku, aku langsung mengajaknya ke ruangan favoritku yaitu perpustakaan kecil yang berada disamping kamarku. Aku selalu menghabiskan waktu bersamanya di perpustakaanku, ini merupakan hal yang menakjubkan untukku.
Satu tahun kami tidak pernah bertengkar, tapi akhirnya kami memang harus bertengkar juga. Tidak ada yang baik – baik saja di dunia ini. Aku tahu masalah besar pasti akan datang, aku sudah siap untuk menghadapinya.
“Rival, kamu kemana kemarin? Kok aku telepon ga diangkat? Kamu kemana akhir – akhir ini?” tanyaku malam itu ditelepon. Sudah seminggu ini aku kehilangan kontak dengan Rival, aku merasakan hal yang aneh, “mungkin dia bosan” itulah anggapanku sekarang.
“Maaf Au, kemarin aku sibuk. Tugasku banyak banget minggu ini” jawab sekenanya.
“Kamu bohong! Kamu pergi sama cewek kan? Dia mantan kamu kan?” ucapku dengan nada tinggi. Aku emosi karena Rival telah membohongiku.
“Kamu tau?, iya Au, kemarin aku pergi sama dia tapi ga berdua. Devin sama Lisa juga ikut. Kemarin aku jenuh di rumah, makanya aku pergi sama mereka. Maaf.”
Setitik air jatuh dari pelupuk mataku, aku menangis. Aku tidak bisa membendung air mataku, aku kecewa pada Rival. Sakit rasanya mendengar pengakuannya, kalau dia jenuh dia pasti memintaku untuk menemaninya. Tapi sekarang? Kenapa harus dengan DIA?!
“Biasanya kamu suka minta aku buat temenin kamu, kamu aneh sekarang. Kamu ga kaya Rival yang dulu, kamu selalu menghindar dari aku. Aku tau kamu kemana dan ngapain aja. Apa aku salah kalau aku jealous?”
“Au, udah lah jangan dibesar – besarin. Aku jalan sama dia ga berdua, lagian kitakan udah sering jalan. Udah ya, aku capek” dia menjawab dengan sedikit menahan emosinya dan dia menutp teleponnya tanpa basa – basi.
Sejak pertengkaran kami malam itu Rival tidak pernah menghubungiku lagi. Aku juga jarang melihatnya di kampus, kami benar – benar bertengkar. Dia susah dihubungi, dia tidak pernah mengantar dan menjemputku lagi. Rival benar – benar berubah dan aku tidak mengerti dengan situasinya. Aku hanya mendapatkan sedikit informasi dari temannya, katanya Rival selalu makan siang di luar dan langsung pergi kalau jam kuliah selesai. Aku mengeryitkan keningku mendengar pengakuan temannya.
Aku sengaja tidak menghubunginya malam ini, dan dia juga tidak menghubungiku. Keesokannya aku mengikuti gerak – geriknya, aku membuntutinya.
Ternyata benar, ketika jam makan siang Rival pergi ke luar. Aku mengikutinya, Rival pergi menuju sebuah klinik yang tidak jauh dari kampus. Aku semakin bingung, apa yang dilakukan Rival di klinik itu? Rival tidak keluar dari mobilnya, dia hanya berhenti di depan klinik itu. Aku sedikit tidak percaya dengan apa yang aku lihat, tapi penglihatanku tidak mungkin salah! Aku melihat seorang wanita yang mengenakan pakaian putih – putih khas medis masuk dalam mobilnya. Dan Rival langsung meluncur mengendarai mobilnya, aku terus mengikutinya. Aku kalut, aku sakit menyaksikan faktanya.
Rival dan wanita itu berhenti disebuah café, dan ya Tuhan! Ini adalah cafe favorit kami. aku hanya mengikutinya sampai depan café itu, aku tidak sanggup kalau harus melihat Rival dan wanita itu bercanda saat makan siang berdua. Dengan fikiran kacau aku pulang ke rumah dan mengurung diri di kamarku.
“Rival, aku udah tau semuanya. Kamu selalu jemput cewe itu makan siang dan nganter dia pulang kan?” tanyaku tanpa basa – basi ditelepon malam itu, aku tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Rival.
“Au, aku ga ngerti”
“Kamu ga usah pura – pura ga ngerti. Kamu kenapa kaya gini Rival? Aku ga pernah giniin kamu, apa salah aku?” tanyaku sambil menahan tangis, suaraku bergetar.
“Maafin aku Au, iya aku selalu pergi makan siang, pergi dan antar jemput Bella. Dia mantan aku itu, tapi kita ga ada apa – apa ko, aku udah anggap dia sebagai sodara dan kakak aku sendiri. Dia lagi PPL disini, dia cuma kenal sama aku di sini, jadi aku selalu nemenin dia” jawabnya enteng tanpa rasa bersalah
“Kamu jahat Val! Kamu udah lupain aku, aku ini pacar kamu! Kamu ga hargai posisi aku”
Rival langsung menutup teleponnya. Aku hanya bisa menangisinya, aku hanya bisa menangis dan menangis.
Satu minggu berlalu setelah kejadian itu, tidak ada komunikasi selama satu minggu. Aku juga tidak pernah menghubunginya. Dan pada akhirnya aku menerima pesan singkat dari Rival yang berisi.
From     : Rivaldi Sebastian
Au, maafin aku. Aku ga ada maksud buat nyakitin kamu, tapi aku rasa aku udah ga baik lagi buat kamu. Lebih baik kita sampai sini aja. Sekali lagi maaf, kita focus dulu aja sama urusan masing – masing.
Ya tuhan! Sudah satu minggu aku kehilangan kontak dengannya, aku senang akhirnya aku mendapat kabar dari Rival. Tapi bukan itu yang aku harapkan, bukan perpisahan yang aku harapkan. Aku tidak mampu menopang tubuhku lagi, aku tidak bisa menerima kenyataannya kalau aku harus berpisah dengan Rival. Tubuhku bergetar dan aku tidak mampu berdiri lagi. Yang aku rasakan hanyalah sakit, perih dalam hatiku.
Dengan ragu aku membalas pesan perpisahan yang Rival kirimkan itu.
To           : Rivaldi Sebastian
Tapi kenapa Val? Kenapa kamu putusin aku? Ini ga adil!

From     : Rivaldi Sebastian
Temuin aku di taman kota, aku mohon.
Tanpa ragu aku langsung mengendarai mobilku menuju taman kota. Kami juga sering menghabiskan waktu di taman itu, tamannya sangat indah dan tertata rapi. Tempat favorite kami adalah perpustakaanku dan taman kota ini.
Rival sudah menungguku, dia duduk diayunan tempat biasa kami menghabiskan banyak waktu. Entah mengapa, tapi aku merasa ada yang tidak beres dengan Rival. Dia seperti sedang bingung dan sedih. Tapi aku lebih sedih daripada Rival, aku lebih sakit hati dari pada dia, dengan langkah berat aku memaksakan kakiku untuk melangkah dan duduk diayunan disampingnya.
Sungguh, aku tidak sanggup menceritakan kisah pahit ini..
***

“Mau lanjut S1?” Tanya Devin sahabat Rival sejak SMP
“Kayaknya di Solo Vin, S1 adanya di Solo. Oya, ka Bella yang mantan Rival itu dia di Solo juga bukan?” tanyaku sekenanya
“Oh, baguslah. Iya, si Bella kuliahnya di Solo juga”
“Udah lulus dia?”
“Belum, masih satu tahun lagi”
“Hmm..”
Sore itu aku pergi bersama Devin ke taman kota, dan membuka kembali lembaran yang baru. Membuka lukaku yang sudah mati-matian aku sembuhkan, semuanya membuat sedih dan perih.
Setelah kelulusan Rival aku tidak pernah bertemu dengannya lagi, mendengar kabarnya pun aku tidak pernah. Aku selalu bertanya pada Devin tentang keberadaan Rival, tapi Devin tidak pernah mau memberitahuku. Banyak sekali alasan yang diberikannya, sampai akhirnya aku lelah mencari kabar tentang Rival.
Kalian tahu bagaimana perasaanku?
Aku terlalu menyayanginya, terlalu mencintanya. Semangat hidupku hilang, semua bayang-bayang Rival terus menghantui hari-hari ku. Aku lelah, aku sakit! Aku ingin melupakannya, melupakan masalalu yang kelam.
 ***
Sejujurnya aku ragu untuk melanjutkan kuliahku di Solo. Tapi aku terus meyakini diriku sendiri.
Solo, dua tahun setelah berpisah..
Akhirnya aku melanjutkan kuliahku di Solo,dengan harapan dapat melupakannya. Kota ini menyimpan banyak kenangan. Aku harus melanjutkan hidupku, membuka kembali lembaran baru dan membuka hati untuk orang lain. Disatu sisi aku bersyukur pada Tuhan karena inilah yang terbaik untukku, walaupun sebetulnya hanya menyiksa.
Aku memilih tinggal bersama nenekku disana, karena aku rasa itu sangat aman walaupun letaknya jauh dari kampusku. Aku melanjutkan sekolah Komunikasiku, aku sudah terlanjur jatuh cinta dengan dunia Broadcasting. Dan ituuu.. karena Rival.
Rival, Rival dan Rival yang aku fikirkan. Siang malam wajah itu terus menghantuiku, membuka lembar demi lembar kenangan pahit dimasa lalu. Aku tetap tidak bisa melewatinya walau sudah dua tahun, selama ini hidupku penuh dengan kekosongan, hampa dan kesakitan.
Hari ini merupakan hari pertamaku masuk kuliah, kampus baru suasana baru dan dalam hati kecilku aku terus memikirkan Rival.
“Hei, kenalin gue Dinda” sapa seorang wanita cantik dan mungil. Aku kaget dan terbangun dari lamunan masa laluku.
“Eh.. hei. Gue Claudya, panggil aja Audy” jawabku agak kaku
“Gue liatin dari tadi lo buka buku, tapi tatapan lo kok kosong. Makanya gue sapa elo, maaf ya kalo ganggu. Oya, kita satu kelas kan ya?”
“iya, kita satu kelas” jawabku sekenanya tanpa mengungkit pembicaraan yang sebelumnya
“Lo ngapain ngelamun disini?”
“Gue Cuma pengen liat-liat aja, tadinya mau makan siang tapi kantinnya penuh. Jadi males gue, sendirian pula”
“Oh.. ya udah kita makan bareng aja yuk sekarang!” ajak Dinda. Tanpa basa-basi aku langsung merapikan tasku dan pergi ke kantin bersama Dinda.
Dinda. Orang pertama yang akrab di kampus, kita satu kelas pula. Ia berasal dari Kalimantan, kelihatannya ia sangat friendly. Kalau aku sih canggung jika harus menyapa terlebih dahulu.
“Au, lo kost apa pulang ke rumah?” Tanya Dinda mengawali perbincangan kami siang itu.
“Gue tinggal di rumah nenek. Cuma ada nenek di sini, gue dari Bandung. Kalo lo?” aku berusaha friendly seperti Dinda.
“Jauh juga ya, tapi masih lebih jauh gue sih. Gue kost, kostannya juga deket sini kok, paling 10menit jalan kaki”
“Ooh gitu. Kapan – kapan gue boleh main dong ke situ?” ucapku bercanda. Ternyata Dinda memang asyik orangnya.
“Boleh laaah, lo mau tinggal di ditu juga boleh” jawabnya sambil tertawa kencang.
Setelah perbincangan siang itu dengan Dinda, kami menjadi berteman. Aku sering menginap di kostannya jika aku malas pulang atau pun banyak tugas. Kami saling bertukar cerita, banyak sekali yang aku ceritakan, termasuk aku menceritakan Rival. Rival yang tak pernah luput dari ingatanku. Namanya, wajahnya, dan cara ia menyakitiku tidak dapat aku lupakan.
Brug!
Buku berserakan di depan kelas sore itu. Dinda pingsan, aku sudah menyuruhnya istirahat. Tapi ia tetap mau mengikuti mata kuliah modeling. Aku segera meminta teman – temanku untuk membawanya ke mobilku.
“Tasya, lo ikut ya. Gue bingung kalo harus bawa Dinda ke Rumah Sakit sendirian” ucapku sambil panic. Tasya termasuk sahabatku juga, tapi aku tidak pernah bertukar cerita dengannya.
“Iya gue ikut. Ayo cepet!” aku langsung tancap gas menuju rumah sakit.
Dinda segera di bawa ke ruang UGD, kami menunggu sekitar 2 jam, lalu Dinda di bawa ke ruang rawat inap. Ternyata ia menderita sakit maag kronis, hingga harus mendapatkan penanganan yang intensif. Dinda belum siuman juga, kami panik. Aku tidak tahu harus menghubungi siapa, Dinda tidak memiliki saudara di sini. Dan aku pun tidak tahu nomor telepon keluarganya.
“Au, kita harus urus administrasinya dan harus membeli resep obatnya” ucap Tasya memecahkan lamunanku.
“Oh yasudah, ayo!” ajakku pada Tasya. Tapi ia hanya diam. “Hei! Ayo cepat!” ajakku sekali lagi sambil menarik tangannya.
“Berapa biayanya Au? Tidak mungkin hanya dua ratus ribu kan?” ujarnya. Oh ternyata Tasya memikirkan dari mana uang untuk membayarnya. Aku juga memikirkan itu.
“Sekarang pake uang gue dulu aja ya, mungkin cukup kalo buat hari ini”
***
“Din, lo udah ngerasa baikan?” tanyaku sambil menyuapinya. Ia sudah bisa makan sekarang, aku sudah tiga hari kurang tidur karena menjaganya.
“Udah kok, gue mau pulang aja ya Au. Gue ga betah, gue juga udah ngerepotin lo sama Tasya” ucapnya. Memang Dinda terlihat membaik setelah mendapatkan perawatan intensif.
“Lo emang boleh pulang hari ini kok. Tapi nanti siang ya”
“Au, lo ga kuliah?” Tanya Dinda dengan raut wajah polosnya.
“Sekarang hari minggu cantiiiik, emang ada mata kuliah apa dihari minggu?”
“Oh my god! Aku sampe lupa hari” jawabnya sambil tertawa.
Aku sudah memberinya obat, harusnya 10 menit kemudian Dinda sudah tertidur pulas karena obat tidur itu. Tapi entah kenapa ia terus berbicara dan bercerita. Tidak ada lagi yang bisa aku perbuat selain menemaninya mengobrol. Kami bercerita banyak, tertawa daaaaan menggosip.
“Apa Anda pasien bernama Dinda?” Tanya seorang Bapak yang mengenakan jas putih itu.
“Oh iya Dok, kenapa?” Tanya Dinda dengan sedikit gembira. Karena ia yakin Dokter itu akan membolehkannya pulang sekarang juga.
“Lambung dan asam lambungnya sudah cukup normal. Mungkin dengan minum obat dan check up selama sebulan dapat memulihkan kinerja lambung anda. Tapi itu tergantung pola hidup Anda. Sekarang Anda sudah boleh pulang dan saya akan menyuruh Suster untuk melepas infusan ini” ucap Dokter itu ramah.
Yeay! Akhirnya Dinda bisa pulang juga. Ia senang tak ketulungan. Aku membereskan barang – barangnya sambil menunggu suster itu melepas infusnya.
Deg! Sontak jantungku berdegub begitu cepat.
Wajah itu, seragam itu….. itu Bella! Ya, Bella yang aku anggap sebagai penghancur hubunganku dengan Rival. Bak langit runtuh kala itu, perasaan benci terhadapnya sontak menyerangku. Wanita yang aku anggap tidak tahu diri sekarang ada di depan mata. Apa yang harus kau lakukan? Haruskah aku menyapanya dan bilang kalau aku sakit hati sekali terhadapnya?. “jangan bertindak bodoh Au!” ucapku dalam hati.
Dengan langkah pelan aku berjalan di samping Dinda. Bella mendorong kursi roda yang diduduki Dinda menuju ruang parkir. Tatapanku kosong, lidahku kelu, bibirku kaku, tenggorokanku terasa tercekik. Aku tidak bisa mengeluarkan satu patah katapun. Ruang parkir sudah semakin dekat, tapi aku tidak tahu harus berkata apa untuk mengeluarkan sedikit kekesalanku terhadap wanita itu.
“Au, kok pandangan lo gitu banget?” Tanya Dinda keheranan.
“Gue gak papa kok. Tuh mobilnya gue parkir sebelah kanan” jawabku agak ketus. Suster itu terus mendorong kursi roda sambil sesekali menyapa rekannya.
Sudah sampai di depan mobilku, tapi aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku membuka pintu mobil untuk Dinda, suster itu membantunya turun dari kursi roda. Sebelum suster itu kembali, aku menahannya dengan pertanyaan ringan.
“Lo Bella kan? eh gue harus manggil apa ya? Mbak mungkin?” tanyaku sedikit agak ketus. Dinda mulai faham dengan situasi sekarang ini.
“Iya, apa kita pernah ketemu?” jawabnya dengan sedikit terbata – bata.
“Kita belum pernah ketemu langsung, tapi gue tau siapa lo, gue Claudya. Oya, thanks udah nganter temen gue sampe sini” ucap ku agak ketus lalu masuk kedalam mobil.
Aku langsung menjalankan mobilku dengan perasaan sedikit marah, sesak, ingin menangis. Ah! Entahlah apa yang aku rasakan. aku terus memerhatikan wanita itu melalui kaca spion, wanita itu berjalan perlahan sambil sesekali menengok kearah belakang. Aku rasa wanita itu mulai sadar dengan ucapanku tadi.
“itu yang namanya Bella?” Tanya Dinda ditengah lamunanku sambil menyetir.
“iya Din, itu yang selalu gue ceritain dang a ada habisnya” jawabku tidak semangat.
Dinda hanya mengangguk, tidak berani meneruskan pertanyaannya karena aku terlihat begitu kacau. Semenjak aku melihat wanita itu pergi bersama Rival, aku tidak lelah untuk mencari informasi tentangnya dan Rival. Aku terus penasaran tentang apa yang terjadi diantara mereka.
Aku merasa lebih hidup ketika bersama Rival, Rival yang mengajarkanku tentang hidup, semangat, sopan santun diantara kami. Tapi ia kadang tidak menghargaiku karena ia lebih mengharga tugas kuliahnya. Aku tidak pernah menuntut apapun kepada Rival, karena tanpa dituntutpun Rival akan melakukan apapun. Aku rindu akan suasana ketika kami bertengkar, menyusuri taman kota, menghabiskan waktu di perpustakaanku. Aku rindu itu, aku rindu Rival, sungguh.
***
Setelah kepergian Rival, pertemuanku dengan Bella. Hidupku semakin diselimuti oleh kemarahan, rasa dendam dan sedih. Aku lebih sering diam, jarang sekali pergi dan menginap bersama teman – temanku. Ketika jam kuliah sudah selesai aku langsung pulang, aku menutup diri dari Dinda. Aku banyak melakukan hal konyol dan membahayakan karena amarahku. Pernah malam itu aku ikut balapan liar, dan yang paling menantang hiking di pegunungan Salak. Tujuannya hanya satu, yaitu bisa melupakan Rival dan Bella. Tapi ternyata mustahil, padahal aku sudah mencobanya selama dua tahun.  Aku masih menutup hatiku untuk orang lain, itulah letak kesalahannya. Aku tidak pernah berpacaran lagi setelah putus dari Rival.
“Tumben lo mau nginep di sini” ucap Dinda sedikit meledek. Aku hanya bisa tersenyum.
“Tumben lo maksa gue buat nginep?” tanyaku dengan nada sinis.
“Usia lo berapa?” Tanya Dinda, menurutku ini cukup serius.
“22 tahun, menurut lo gue udah tua?”
“Gue juga 22 tahun kali” jawab Dinda sedikit ketus. Aku rasa Dinda sedikit marah karena aku selalu menjawab seenaknya.
“Memangnya ada apa? Kok pake nanya usia segala?” tanyaku menyelidik.
“Berapa usia Rival dan Bella?” Tanya Dinda sedikit kaku.
Ya Tuhan! Nama itu lagi, kenapa Dinda harus menyebutnya? Apa tidak ada nama lain? Apa tidak ada waktu lain untuk menyebut nama itu?
“Rival 24 tahun, kalau Bella mungkin 26 tahun” jawabku pelan. Aku berusaha membendung air mata.
“Ini undangan buat lo, ternyata Bella orang Jogja” ucap Dinda sambil memberikan surat undangan berwarna merah muda itu.
Aku menerimanya dengan tangan gemetar. Dan benar saja, itu undangan pernikahan Bella dan Rival. Setitik air mata jatuh membasahi sampul undangan itu, aku berusaha untuk membendungnya. Rasanya aku ingin membakar surat undangan itu, menemui Rival dan menamparnya. Rival benar – benar tega meninggalkanku untuk Bella, dan bayngkan saja, mereka menikah minggu depan!
Aku mulai membuka halaman satu surat itu, foto pre-wedding mereka terpanpang jelas, hatiku bagai disayat, sakit sampai keulu hati. Mereka berdua terlihat mesra sekali, gaun putih yang dikenakan Bella indah. mereka terlihat bahagia sekali, Bella menaiki sepeda diiringi Rival yang ada disampingnya. Latar tempat yang indah dan romantis, suasana malam di Malioboro. Sungguh aku iri, aku marah, aku sedih, sesak dada ku. Rasanya seperti rongga besar yang menganga menembus dadaku.
Aku membuka halaman berikutnya, nama mereka jelas terukir di surat itu. BELLA LAURA & RIVALDI SEBASTIAN. Aku tidak bisa membendung air mataku lagi. Bukan setitik yang jatuh, tapi air mata itu menganak sungai dipipiku. Begitu tega Rival melakukan ini terhadapku. Aku tidak sanggup untuk membuka halaman selanjutnya. Aku langsung menjatuhkan surat itu dan bersandar di kursi. Dinda memelukku, berusaha menenangkanku.

Rival sangat menyakitiku dan itu pula yang menjadikan motivasi bagiku untuk membuka hati, membuka lembaran  baru. Rival sudah bahagia dengan pilihannya, dengan hidupnya. Akupun harus demikian.

No comments:

Post a Comment