Aku Audy,
Claudya Destianira. Kalian pasti bisa menebak aku lahir pada bulan apa, pasti
bulan Desember bukan?. Ya, aku lahir pada bulan Desember dimusim penghujan.
Claudya diambil dari kata Inggris (Cloud) yang memiliki arti mendung, karena
aku lahir dibulan Desember yang mendung. Apalah arti sebuah nama, aku tidak
ingin membahasnya lagi.
Aku terdaftar
sebagai mahasiswa Komunikasi disebuah Institut Negeri di kotaku, ada seseorang
yang membuatku terobsesi untuk memilih bidang broadcasting padahal aku tidak
tahu apa – apa. Ketika itu aku berusaha keras untuk dapat di terima di Institut
Negeri tersebut, seseorang telah menyemangatiku.
Seseorang yang
sangat aku sayangi sampai detik ini, seseorang yang tak pernah luput dari benak
dan fikiranku. Dia adalah Rival, Rivaldi Sebastian nama lengkapnya. Dia lebih
tua 2 tahun dariku, dia kakak kelasku sewaktu SMP, tapi tuhan tidak menakdirkan
kami untuk satu SMA. Sewaktu SMP aku tidak mengenalnya, tapi akhirnya kami bisa
berkenalan dan “dekat”. Aku tidak ingin menceritakan bagaimana kami bisa
“dekat”.
Singkatnya, aku
sudah 2 tahun berpacaran dengannya. Dua tahun sangatlah singkat, selama itu aku
menyembunyikan hubunganku dari orang tuaku. Aku yakin, orang tuaku tidak akan
mengizinkan aku untuk berhubungan dengannya. Aku tahu, dia pasti keberatan
kalau tanpa persetujuan orang tua. Aku sudah berulangkali mengungkit-ungkit hal
ini, tapi dia hanya berkata “Udah, jalani dulu aja. Let it flow aja”, aku sudah
tidak tahu harus berkata apa karena pasti kalimat itu yang keluar dari
mulutnya.
Satu tahun
pertama hubungan kami baik – baik saja, bahkan kami tidak pernah bertengkar.
Bayangkan, dalam satu tahun kami tidak pernah bertengkar, itu sangat mustahil
bukan?
Kami satu kampus
dan satu major, dia adalah seniorku di kampus. Kami mengambil D3 Komunikasi,
tahun ini dia lulus dan aku harus meneruskan satu tahun lagi. Aku sangat
menikmati semua kegiatanku yang padat. Rival selalu ada untukku ketika aku
membutuhkannya, kami saling bertukar cerita tentang kuliah kami dan aku juga
sering meminta bantuannya untuk menyelesaikan tugas – tugas kuliahku.
“Au, ayo kita makan siang di
kantin. Kamu pasti laper kan?” siang itu Rival ke kelasku dan mengajakku makan.
Tanpa ragu aku langsung menarik tasnya menuju kantin.
Kami selalu
menghabiskan waktu bersama di kampus, kami pasti bersama ketika istirahat dan
aku selalu diantar jemput olehnya.
“Mas, besok kan libur ya. Main
dong ke rumah aku, mau yayayaaaaa..” kataku sambil merengek memintanya datang
ke rumah. Dia hanya tersenyum dan mengacak –acak rambutku.
Aku tahu apa
yang difikirkannya, dia agak canggung kalau datang ke rumahku karena
kebohongan. Aku berbohong pada orang
tuaku, aku selalu bilang pada mereka Rival hanyalah temanku. Tapi nyatanya kita
tidak berteman, hubungan kami sudah cukup lama. Itulah yang membuat Rival
canggung mengunjungi rumahku. Tapi dia tidak pernah marah kalau aku harus
berbohong seperti itu, dia sudah mengerti situasinya.
Jika Rival
mengunjungi rumahku, aku langsung mengajaknya ke ruangan favoritku yaitu
perpustakaan kecil yang berada disamping kamarku. Aku selalu menghabiskan waktu
bersamanya di perpustakaanku, ini merupakan hal yang menakjubkan untukku.
Satu tahun kami
tidak pernah bertengkar, tapi akhirnya kami memang harus bertengkar juga. Tidak
ada yang baik – baik saja di dunia ini. Aku tahu masalah besar pasti akan
datang, aku sudah siap untuk menghadapinya.
“Rival, kamu kemana kemarin? Kok
aku telepon ga diangkat? Kamu kemana akhir – akhir ini?” tanyaku malam itu
ditelepon. Sudah seminggu ini aku kehilangan kontak dengan Rival, aku merasakan
hal yang aneh, “mungkin dia bosan” itulah anggapanku sekarang.
“Maaf Au, kemarin aku sibuk.
Tugasku banyak banget minggu ini” jawab sekenanya.
“Kamu bohong! Kamu pergi sama
cewek kan? Dia mantan kamu kan?” ucapku dengan nada tinggi. Aku emosi karena
Rival telah membohongiku.
“Kamu tau?, iya Au, kemarin aku
pergi sama dia tapi ga berdua. Devin sama Lisa juga ikut. Kemarin aku jenuh di
rumah, makanya aku pergi sama mereka. Maaf.”
Setitik air
jatuh dari pelupuk mataku, aku menangis. Aku tidak bisa membendung air mataku,
aku kecewa pada Rival. Sakit rasanya mendengar pengakuannya, kalau dia jenuh
dia pasti memintaku untuk menemaninya. Tapi sekarang? Kenapa harus dengan DIA?!
“Biasanya kamu suka minta aku
buat temenin kamu, kamu aneh sekarang. Kamu ga kaya Rival yang dulu, kamu
selalu menghindar dari aku. Aku tau kamu kemana dan ngapain aja. Apa aku salah
kalau aku jealous?”
“Au, udah lah jangan dibesar –
besarin. Aku jalan sama dia ga berdua, lagian kitakan udah sering jalan. Udah
ya, aku capek” dia menjawab dengan sedikit menahan emosinya dan dia menutp
teleponnya tanpa basa – basi.
Sejak
pertengkaran kami malam itu Rival tidak pernah menghubungiku lagi. Aku juga
jarang melihatnya di kampus, kami benar – benar bertengkar. Dia susah dihubungi,
dia tidak pernah mengantar dan menjemputku lagi. Rival benar – benar berubah
dan aku tidak mengerti dengan situasinya. Aku hanya mendapatkan sedikit
informasi dari temannya, katanya Rival selalu makan siang di luar dan langsung
pergi kalau jam kuliah selesai. Aku mengeryitkan keningku mendengar pengakuan
temannya.
Aku sengaja
tidak menghubunginya malam ini, dan dia juga tidak menghubungiku. Keesokannya
aku mengikuti gerak – geriknya, aku membuntutinya.
Ternyata benar,
ketika jam makan siang Rival pergi ke luar. Aku mengikutinya, Rival pergi
menuju sebuah klinik yang tidak jauh dari kampus. Aku semakin bingung, apa yang
dilakukan Rival di klinik itu? Rival tidak keluar dari mobilnya, dia hanya
berhenti di depan klinik itu. Aku sedikit tidak percaya dengan apa yang aku
lihat, tapi penglihatanku tidak mungkin salah! Aku melihat seorang wanita yang
mengenakan pakaian putih – putih khas medis masuk dalam mobilnya. Dan Rival
langsung meluncur mengendarai mobilnya, aku terus mengikutinya. Aku kalut, aku
sakit menyaksikan faktanya.
Rival dan wanita
itu berhenti disebuah café, dan ya Tuhan! Ini adalah cafe favorit kami. aku
hanya mengikutinya sampai depan café itu, aku tidak sanggup kalau harus melihat
Rival dan wanita itu bercanda saat makan siang berdua. Dengan fikiran kacau aku
pulang ke rumah dan mengurung diri di kamarku.
“Rival, aku udah tau semuanya.
Kamu selalu jemput cewe itu makan siang dan nganter dia pulang kan?” tanyaku
tanpa basa – basi ditelepon malam itu, aku tidak memiliki kesempatan untuk bertemu
dengan Rival.
“Au, aku ga ngerti”
“Kamu ga usah pura – pura ga
ngerti. Kamu kenapa kaya gini Rival? Aku ga pernah giniin kamu, apa salah aku?”
tanyaku sambil menahan tangis, suaraku bergetar.
“Maafin aku Au, iya aku selalu
pergi makan siang, pergi dan antar jemput Bella. Dia mantan aku itu, tapi kita
ga ada apa – apa ko, aku udah anggap dia sebagai sodara dan kakak aku sendiri.
Dia lagi PPL disini, dia cuma kenal sama aku di sini, jadi aku selalu nemenin
dia” jawabnya enteng tanpa rasa bersalah
“Kamu jahat Val! Kamu udah lupain
aku, aku ini pacar kamu! Kamu ga hargai posisi aku”
Rival langsung
menutup teleponnya. Aku hanya bisa menangisinya, aku hanya bisa menangis dan
menangis.
Satu minggu
berlalu setelah kejadian itu, tidak ada komunikasi selama satu minggu. Aku juga
tidak pernah menghubunginya. Dan pada akhirnya aku menerima pesan singkat dari
Rival yang berisi.
From : Rivaldi Sebastian
Au, maafin aku. Aku ga ada maksud
buat nyakitin kamu, tapi aku rasa aku udah ga baik lagi buat kamu. Lebih baik
kita sampai sini aja. Sekali lagi maaf, kita focus dulu aja sama urusan masing
– masing.
Ya tuhan! Sudah satu minggu aku
kehilangan kontak dengannya, aku senang akhirnya aku mendapat kabar dari Rival.
Tapi bukan itu yang aku harapkan, bukan perpisahan yang aku harapkan. Aku tidak
mampu menopang tubuhku lagi, aku tidak bisa menerima kenyataannya kalau aku
harus berpisah dengan Rival. Tubuhku bergetar dan aku tidak mampu berdiri lagi.
Yang aku rasakan hanyalah sakit, perih dalam hatiku.
Dengan ragu aku membalas pesan
perpisahan yang Rival kirimkan itu.
To : Rivaldi Sebastian
Tapi kenapa Val? Kenapa kamu
putusin aku? Ini ga adil!
From : Rivaldi Sebastian
Temuin aku di taman kota, aku
mohon.
Tanpa ragu aku
langsung mengendarai mobilku menuju taman kota. Kami juga sering menghabiskan
waktu di taman itu, tamannya sangat indah dan tertata rapi. Tempat favorite
kami adalah perpustakaanku dan taman kota ini.
Rival sudah
menungguku, dia duduk diayunan tempat biasa kami menghabiskan banyak waktu.
Entah mengapa, tapi aku merasa ada yang tidak beres dengan Rival. Dia seperti
sedang bingung dan sedih. Tapi aku lebih sedih daripada Rival, aku lebih sakit
hati dari pada dia, dengan langkah berat aku memaksakan kakiku untuk melangkah
dan duduk diayunan disampingnya.
Sungguh, aku tidak sanggup
menceritakan kisah pahit ini..
***
“Mau lanjut S1?” Tanya Devin
sahabat Rival sejak SMP
“Kayaknya di Solo Vin, S1 adanya
di Solo. Oya, ka Bella yang mantan Rival itu dia di Solo juga bukan?” tanyaku
sekenanya
“Oh, baguslah. Iya, si Bella kuliahnya
di Solo juga”
“Udah lulus dia?”
“Belum, masih satu tahun lagi”
“Hmm..”
Sore itu aku
pergi bersama Devin ke taman kota, dan membuka kembali lembaran yang baru.
Membuka lukaku yang sudah mati-matian aku sembuhkan, semuanya membuat sedih dan
perih.
Setelah
kelulusan Rival aku tidak pernah bertemu dengannya lagi, mendengar kabarnya pun
aku tidak pernah. Aku selalu bertanya pada Devin tentang keberadaan Rival, tapi
Devin tidak pernah mau memberitahuku. Banyak sekali alasan yang diberikannya,
sampai akhirnya aku lelah mencari kabar tentang Rival.
Kalian tahu bagaimana perasaanku?
Aku terlalu
menyayanginya, terlalu mencintanya. Semangat hidupku hilang, semua bayang-bayang
Rival terus menghantui hari-hari ku. Aku lelah, aku sakit! Aku ingin
melupakannya, melupakan masalalu yang kelam.
***
Sejujurnya aku ragu untuk
melanjutkan kuliahku di Solo. Tapi aku terus meyakini diriku sendiri.
Solo, dua tahun setelah
berpisah..
Akhirnya aku
melanjutkan kuliahku di Solo,dengan harapan dapat melupakannya. Kota ini
menyimpan banyak kenangan. Aku harus melanjutkan hidupku, membuka kembali
lembaran baru dan membuka hati untuk orang lain. Disatu sisi aku bersyukur pada
Tuhan karena inilah yang terbaik untukku, walaupun sebetulnya hanya menyiksa.
Aku memilih
tinggal bersama nenekku disana, karena aku rasa itu sangat aman walaupun
letaknya jauh dari kampusku. Aku melanjutkan sekolah Komunikasiku, aku sudah
terlanjur jatuh cinta dengan dunia Broadcasting. Dan ituuu.. karena Rival.
Rival, Rival dan
Rival yang aku fikirkan. Siang malam wajah itu terus menghantuiku, membuka
lembar demi lembar kenangan pahit dimasa lalu. Aku tetap tidak bisa melewatinya
walau sudah dua tahun, selama ini hidupku penuh dengan kekosongan, hampa dan
kesakitan.
Hari ini
merupakan hari pertamaku masuk kuliah, kampus baru suasana baru dan dalam hati
kecilku aku terus memikirkan Rival.
“Hei, kenalin gue Dinda” sapa
seorang wanita cantik dan mungil. Aku kaget dan terbangun dari lamunan masa
laluku.
“Eh.. hei. Gue Claudya, panggil
aja Audy” jawabku agak kaku
“Gue liatin dari tadi lo buka
buku, tapi tatapan lo kok kosong. Makanya gue sapa elo, maaf ya kalo ganggu.
Oya, kita satu kelas kan ya?”
“iya, kita satu kelas” jawabku
sekenanya tanpa mengungkit pembicaraan yang sebelumnya
“Lo ngapain ngelamun disini?”
“Gue Cuma pengen liat-liat aja,
tadinya mau makan siang tapi kantinnya penuh. Jadi males gue, sendirian pula”
“Oh.. ya udah kita makan bareng
aja yuk sekarang!” ajak Dinda. Tanpa basa-basi aku langsung merapikan tasku dan
pergi ke kantin bersama Dinda.
Dinda. Orang
pertama yang akrab di kampus, kita satu kelas pula. Ia berasal dari Kalimantan,
kelihatannya ia sangat friendly. Kalau aku sih canggung jika harus menyapa
terlebih dahulu.
“Au, lo kost apa pulang ke
rumah?” Tanya Dinda mengawali perbincangan kami siang itu.
“Gue tinggal di rumah nenek. Cuma
ada nenek di sini, gue dari Bandung. Kalo lo?” aku berusaha friendly seperti
Dinda.
“Jauh juga ya, tapi masih lebih
jauh gue sih. Gue kost, kostannya juga deket sini kok, paling 10menit jalan
kaki”
“Ooh gitu. Kapan – kapan gue
boleh main dong ke situ?” ucapku bercanda. Ternyata Dinda memang asyik
orangnya.
“Boleh laaah, lo mau tinggal di
ditu juga boleh” jawabnya sambil tertawa kencang.
Setelah
perbincangan siang itu dengan Dinda, kami menjadi berteman. Aku sering menginap
di kostannya jika aku malas pulang atau pun banyak tugas. Kami saling bertukar
cerita, banyak sekali yang aku ceritakan, termasuk aku menceritakan Rival.
Rival yang tak pernah luput dari ingatanku. Namanya, wajahnya, dan cara ia
menyakitiku tidak dapat aku lupakan.
Brug!
Buku berserakan
di depan kelas sore itu. Dinda pingsan, aku sudah menyuruhnya istirahat. Tapi
ia tetap mau mengikuti mata kuliah modeling. Aku segera meminta teman – temanku
untuk membawanya ke mobilku.
“Tasya, lo ikut ya. Gue bingung
kalo harus bawa Dinda ke Rumah Sakit sendirian” ucapku sambil panic. Tasya
termasuk sahabatku juga, tapi aku tidak pernah bertukar cerita dengannya.
“Iya gue ikut. Ayo cepet!” aku
langsung tancap gas menuju rumah sakit.
Dinda segera di
bawa ke ruang UGD, kami menunggu sekitar 2 jam, lalu Dinda di bawa ke ruang
rawat inap. Ternyata ia menderita sakit maag kronis, hingga harus mendapatkan
penanganan yang intensif. Dinda belum siuman juga, kami panik. Aku tidak tahu
harus menghubungi siapa, Dinda tidak memiliki saudara di sini. Dan aku pun
tidak tahu nomor telepon keluarganya.
“Au, kita harus urus
administrasinya dan harus membeli resep obatnya” ucap Tasya memecahkan
lamunanku.
“Oh yasudah, ayo!” ajakku pada
Tasya. Tapi ia hanya diam. “Hei! Ayo cepat!” ajakku sekali lagi sambil menarik
tangannya.
“Berapa biayanya Au? Tidak
mungkin hanya dua ratus ribu kan?” ujarnya. Oh ternyata Tasya memikirkan dari
mana uang untuk membayarnya. Aku juga memikirkan itu.
“Sekarang pake uang gue dulu aja
ya, mungkin cukup kalo buat hari ini”
***
“Din, lo udah ngerasa baikan?”
tanyaku sambil menyuapinya. Ia sudah bisa makan sekarang, aku sudah tiga hari
kurang tidur karena menjaganya.
“Udah kok, gue mau pulang aja ya
Au. Gue ga betah, gue juga udah ngerepotin lo sama Tasya” ucapnya. Memang Dinda
terlihat membaik setelah mendapatkan perawatan intensif.
“Lo emang boleh pulang hari ini
kok. Tapi nanti siang ya”
“Au, lo ga kuliah?” Tanya Dinda
dengan raut wajah polosnya.
“Sekarang hari minggu cantiiiik,
emang ada mata kuliah apa dihari minggu?”
“Oh my god! Aku sampe lupa hari”
jawabnya sambil tertawa.
Aku sudah
memberinya obat, harusnya 10 menit kemudian Dinda sudah tertidur pulas karena
obat tidur itu. Tapi entah kenapa ia terus berbicara dan bercerita. Tidak ada
lagi yang bisa aku perbuat selain menemaninya mengobrol. Kami bercerita banyak,
tertawa daaaaan menggosip.
“Apa Anda pasien bernama Dinda?”
Tanya seorang Bapak yang mengenakan jas putih itu.
“Oh iya Dok, kenapa?” Tanya Dinda
dengan sedikit gembira. Karena ia yakin Dokter itu akan membolehkannya pulang
sekarang juga.
“Lambung dan asam lambungnya
sudah cukup normal. Mungkin dengan minum obat dan check up selama sebulan dapat
memulihkan kinerja lambung anda. Tapi itu tergantung pola hidup Anda. Sekarang
Anda sudah boleh pulang dan saya akan menyuruh Suster untuk melepas infusan
ini” ucap Dokter itu ramah.
Yeay! Akhirnya
Dinda bisa pulang juga. Ia senang tak ketulungan. Aku membereskan barang –
barangnya sambil menunggu suster itu melepas infusnya.
Deg! Sontak jantungku berdegub
begitu cepat.
Wajah itu,
seragam itu….. itu Bella! Ya, Bella yang aku anggap sebagai penghancur
hubunganku dengan Rival. Bak langit runtuh kala itu, perasaan benci terhadapnya
sontak menyerangku. Wanita yang aku anggap tidak tahu diri sekarang ada di
depan mata. Apa yang harus kau lakukan? Haruskah aku menyapanya dan bilang
kalau aku sakit hati sekali terhadapnya?. “jangan bertindak bodoh Au!” ucapku
dalam hati.
Dengan langkah
pelan aku berjalan di samping Dinda. Bella mendorong kursi roda yang diduduki
Dinda menuju ruang parkir. Tatapanku kosong, lidahku kelu, bibirku kaku,
tenggorokanku terasa tercekik. Aku tidak bisa mengeluarkan satu patah katapun. Ruang
parkir sudah semakin dekat, tapi aku tidak tahu harus berkata apa untuk
mengeluarkan sedikit kekesalanku terhadap wanita itu.
“Au, kok pandangan lo gitu
banget?” Tanya Dinda keheranan.
“Gue gak papa kok. Tuh mobilnya
gue parkir sebelah kanan” jawabku agak ketus. Suster itu terus mendorong kursi
roda sambil sesekali menyapa rekannya.
Sudah sampai di
depan mobilku, tapi aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku membuka pintu mobil
untuk Dinda, suster itu membantunya turun dari kursi roda. Sebelum suster itu
kembali, aku menahannya dengan pertanyaan ringan.
“Lo Bella kan? eh gue harus
manggil apa ya? Mbak mungkin?” tanyaku sedikit agak ketus. Dinda mulai faham
dengan situasi sekarang ini.
“Iya, apa kita pernah ketemu?”
jawabnya dengan sedikit terbata – bata.
“Kita belum pernah ketemu
langsung, tapi gue tau siapa lo, gue Claudya. Oya, thanks udah nganter temen
gue sampe sini” ucap ku agak ketus lalu masuk kedalam mobil.
Aku langsung
menjalankan mobilku dengan perasaan sedikit marah, sesak, ingin menangis. Ah!
Entahlah apa yang aku rasakan. aku terus memerhatikan wanita itu melalui kaca
spion, wanita itu berjalan perlahan sambil sesekali menengok kearah belakang.
Aku rasa wanita itu mulai sadar dengan ucapanku tadi.
“itu yang namanya Bella?” Tanya
Dinda ditengah lamunanku sambil menyetir.
“iya Din, itu yang selalu gue
ceritain dang a ada habisnya” jawabku tidak semangat.
Dinda hanya
mengangguk, tidak berani meneruskan pertanyaannya karena aku terlihat begitu
kacau. Semenjak aku melihat wanita itu pergi bersama Rival, aku tidak lelah
untuk mencari informasi tentangnya dan Rival. Aku terus penasaran tentang apa
yang terjadi diantara mereka.
Aku merasa lebih
hidup ketika bersama Rival, Rival yang mengajarkanku tentang hidup, semangat,
sopan santun diantara kami. Tapi ia kadang tidak menghargaiku karena ia lebih
mengharga tugas kuliahnya. Aku tidak pernah menuntut apapun kepada Rival,
karena tanpa dituntutpun Rival akan melakukan apapun. Aku rindu akan suasana
ketika kami bertengkar, menyusuri taman kota, menghabiskan waktu di
perpustakaanku. Aku rindu itu, aku rindu Rival, sungguh.
***
Setelah
kepergian Rival, pertemuanku dengan Bella. Hidupku semakin diselimuti oleh
kemarahan, rasa dendam dan sedih. Aku lebih sering diam, jarang sekali pergi
dan menginap bersama teman – temanku. Ketika jam kuliah sudah selesai aku
langsung pulang, aku menutup diri dari Dinda. Aku banyak melakukan hal konyol
dan membahayakan karena amarahku. Pernah malam itu aku ikut balapan liar, dan
yang paling menantang hiking di pegunungan Salak. Tujuannya hanya satu, yaitu
bisa melupakan Rival dan Bella. Tapi ternyata mustahil, padahal aku sudah
mencobanya selama dua tahun. Aku masih
menutup hatiku untuk orang lain, itulah letak kesalahannya. Aku tidak pernah
berpacaran lagi setelah putus dari Rival.
“Tumben lo mau nginep di sini”
ucap Dinda sedikit meledek. Aku hanya bisa tersenyum.
“Tumben lo maksa gue buat
nginep?” tanyaku dengan nada sinis.
“Usia lo berapa?” Tanya Dinda,
menurutku ini cukup serius.
“22 tahun, menurut lo gue udah
tua?”
“Gue juga 22 tahun kali” jawab
Dinda sedikit ketus. Aku rasa Dinda sedikit marah karena aku selalu menjawab
seenaknya.
“Memangnya ada apa? Kok pake
nanya usia segala?” tanyaku menyelidik.
“Berapa usia Rival dan Bella?”
Tanya Dinda sedikit kaku.
Ya Tuhan! Nama
itu lagi, kenapa Dinda harus menyebutnya? Apa tidak ada nama lain? Apa tidak
ada waktu lain untuk menyebut nama itu?
“Rival 24 tahun, kalau Bella
mungkin 26 tahun” jawabku pelan. Aku berusaha membendung air mata.
“Ini undangan buat lo, ternyata
Bella orang Jogja” ucap Dinda sambil memberikan surat undangan berwarna merah
muda itu.
Aku menerimanya
dengan tangan gemetar. Dan benar saja, itu undangan pernikahan Bella dan Rival.
Setitik air mata jatuh membasahi sampul undangan itu, aku berusaha untuk
membendungnya. Rasanya aku ingin membakar surat undangan itu, menemui Rival dan
menamparnya. Rival benar – benar tega meninggalkanku untuk Bella, dan bayngkan
saja, mereka menikah minggu depan!
Aku mulai
membuka halaman satu surat itu, foto pre-wedding mereka terpanpang jelas,
hatiku bagai disayat, sakit sampai keulu hati. Mereka berdua terlihat mesra
sekali, gaun putih yang dikenakan Bella indah. mereka terlihat bahagia sekali,
Bella menaiki sepeda diiringi Rival yang ada disampingnya. Latar tempat yang
indah dan romantis, suasana malam di Malioboro. Sungguh aku iri, aku marah, aku
sedih, sesak dada ku. Rasanya seperti rongga besar yang menganga menembus
dadaku.
Aku membuka
halaman berikutnya, nama mereka jelas terukir di surat itu. BELLA LAURA & RIVALDI SEBASTIAN.
Aku tidak bisa membendung air mataku lagi. Bukan setitik yang jatuh, tapi air
mata itu menganak sungai dipipiku. Begitu tega Rival melakukan ini terhadapku.
Aku tidak sanggup untuk membuka halaman selanjutnya. Aku langsung menjatuhkan
surat itu dan bersandar di kursi. Dinda memelukku, berusaha menenangkanku.
Rival sangat
menyakitiku dan itu pula yang menjadikan motivasi bagiku untuk membuka hati,
membuka lembaran baru. Rival sudah
bahagia dengan pilihannya, dengan hidupnya. Akupun harus demikian.
No comments:
Post a Comment