Disaat hatiku merintih..
Aku diam mematung, menatap kosong langit malam. Teringat masalaluku yang pahit, menyakitkan. Berjuta bintang menghiasi langit, rembulan menerangi alam semesta, tersenyum. Menertawakanku. Menertawakan manusia di muka bumi yang bersedih. “Harusnya kau ikut bahagia Alice, seperti bintang dan bulan”. Ucapku dalam hati..
*****
Bulan. Menerangi bumi dimalam hari. Bulan yang Alice rindukan..
“Bagaimana keadaan Bulan, Mawar?” tanyaku sambil mengatur nafas, aku harus berlari ke lantai 2 rumah sakit yang menurutku sangat menakutkan.
Mawar hanya diam, terus menangis tersedu – sedu. Mencengkram tanganku, memelukku erat hingga aku sulit bernafas. Aku tahu apa yang Mawar rasakan, akupun akan melakukan hal yang sama jika aku berada diposisi Mawar. Aku berusaha untuk tidak menangis, aku berusaha untuk menenangkan Mawar disaat hatiku sedih.
Bulan, orang yang aku sayangi. Bulan, orang yang menyayangi Mawar. Aku, Bulan dan Mawar bersahabat sejak SMA, kami pasti pergi berkemah jika liburan tiba. Kami akan memandang langit malam yang indah, bercerita tentang apapun. Aku menyayangi meraka, tapi celakanya aku menyayangi Bulan lebih dari seorang teman. Rasa sayangku lebih, begitupun dengan Mawar. Aku hanya memendam perasaanku, aku tidak ingin persahabatan kami hancur. Persahabatan kami begitu kokoh, kami tidak pernah bertengkar. Sampai pada akhirnya aku harus menjaga jarak, menghargai Mawar Aku menyimpan rasa dan sakit ini sendirian. Sakitnya begitu hebat, meninggalkan bekas direlung hati.
Dua tahun lalu, ketika kami menghabiskan liburan kenaikan kelas..
“Alice, come here!” ajak Bulan, sambil melambaikan tangannya. Ia berada jauh denganku, dan ia sedang bersama Mawar.
Sengaja aku menjauh dari mereka, aku cemburu!. “Tidak bisakah mereka menghargai perasaanku? Tidak bisakah Bulan merasakan kasih sayangku?” aku terus mengutuk dalam hati. Menahan tangis dan emosi yang sangat.
“Ada apa?” tanyaku sekenanya. Sesak yang aku rasakan jika melihat mereka bersama.
“Sengaja aku mengajakmu ke Villa ini, pemandangannya indah” Ucap Mawar terlihat basa basi.
“Ada apa?” tanyaku lebih tegas, dengan senyum palsuku
“Aku dan Bulan. Kami sudah resmi berpacaran” seru Mawar antusia, ditambah dengan senyum riangnya.
Bulanpun tersenyum lebar, terlihat bahagia. Ini adalah senyum terbahagia yang dilukis Bulan selama aku melihatnya. Sempurna! Sempurnalah kesedihanku, semakin sakit relung hatiku.
--------------------
“Maaf, kami tidak bisa menolong Bulan” ucap dokter David.
Kesedihanku semakin sempurna. Air mataku tidak lagi terbendung, air mataku mengalir begitu deras. Mawar terjatuh kelantai, ia terlihat sangat terpukul. Tubuhku gemetar, aku tidak percaya dengan semua yang sedang terjadi.
Aku dan Mawar memasuki ruang UGD. Bulan terbujur kaku diatas ranjang, seluruh tubuhnya tertutup kain putih. Mawar menangis sejadi – jadinya, berusaha membangunkan Bulan yang tidak bernyawa. Aku membuka kain putih itu, aku ingin melihat wajahnya sekali lagi, hingga aku mengingat wajah itu dan wajah itu tidak akan terlupakan. Wajahnya pucat, bibirnya membiru. Wajah tampannya tidak begitu terlihat lagi, mata coklatnya tidak bisa aku lihat lagi.
“Semoga kau bahagia Bulan, aku selalu mencintaimu” ucapku dalam hati..
*****
Bintangpun menggantikan Bulan..
“Lihat itu Alice!, gerhana bulan!” seru Bintang sambil menunjuk langit. Menunjukkan keindahan Bulan
Aku hanya tersenyum dan melihat gerhana bulan itu bersama Bintang. Aku melihat wajah Bulan dalam khayalanku. Aku merindukannya Tuhan…
“Alice, aku akan menjadi Bintang paling indah di dunia ini” Ucap Bintang, membuatku tersenyum lebar.
“Really?”
“Hei, apa aku memiliki tampang seorang pembohong?” tanyanya serius. Aku hanya tersenyum, menatapnya dalam.
“Aku tidak ingin kehilangan Bintang, bintang yang menerangi bumi dan Bintang yang membawa kebahagiaan untukku” Ucapku pelan, berat untuk mengucapkannya.
“Alice, apa kau tahu?”
“Apa?”
“Bulan dan Bintang saling menggantikan. Langit akan tetap indah jika Bulan tidak ada, karena ada Bintang yang menggantikannya. Begitupun sebaliknya”
“Entahlah” hanya itu yang bisa aku ucapkan
“Belajarlah untuk melupakan Bulan, belajarlah hidup tanpa Bulan. Karena disini masih ada Bintang yang akan menggantikannya” ucap Bintang meyakinkan.
Aku hanya diam terpaku, mencerna ucapannya. Bintang memang bisa menggantikan Bulan, tapi tetap saja Bulan yang aku inginkan. Aku ingin Bulan kembali ke dunia, aku merindukannya walaupun hanya kepedihan yang diberikannya. Luka ku kembali sakit, mengingat wajah Bulan yang teduh, mengingat masalalu yang begitu pahit.
Aku tidak bisa menuangkan semua perasaanku pada sebuah tulisan yang bagus, ini adalah sebagian dari hidupku..
Bulan menghilang, ketika ia menghilang, ia membawa semuanya pergi. Rasanya seperti rongga besar yang menganga menembus dadaku. Tapi dengan begitu aku senang, karena rasa sakit ini adalah satu – satunya yang mengingatkanku bahwa ia pernah ada, menghiasi hariku dan memberikanku kepedihan..
No comments:
Post a Comment