Thursday, June 28, 2012

Thursday on May

What are you doing on Thursday?

Aku seperti mayat hidup, tidak makan dan hanya sekali minum dalam dua hari. Aku hanya diam diruang perpustakaanku memandangi layar laptopku dan melamun. Bahkan dalam dua hari aku hanya tidur lima jam, entah apa yang terjadi padaku. Sesekali aku membaca novel, buku referensi, mengirim e-mail pada temanku di Solo dan menuliskan semua isi hatiku.

Ruang perpustakaan pribadiku aku kunci dari dalam, membuka jendela ruangan yang memiliki landscape salak mountain. Akhir-akhir ini fikiranku kacau, hatiku gundah. Sudah banyak sekali cerita yang aku buat yang berasal dari isi hatiku. Aku membiarkan otak dan tanganku bekerja tidak seperti biasanya, aku biarkan fikiranku melayang jauh dan menangis menahan sakit. Sesak dadaku jika aku mengingatnya, mengingat ‘tingkah’ mereka yang tidak menghargaiku. Aku bukannya ingin dihargai dan diakui keberadaannya. Tapi aku…. Aku adalah kekasihnya.

Cukup lama aku bersamanya, awalnya aku tidak mau mengajaknya berkunjung ke rumahku karena aku merasa canggung. Tapi aku selalu bercerita tentang semua kegiatanku yang aku habiskan di perpustakaan. Hingga akhirnya dia penasaran dengan kepribadianku, dia ingin aku mengajak ke rumahku. Dengan berat hati setelah jam kuliah terakhir aku memintanya untuk menjemputku di kampus.

“Nunggu lama? Sory ya, tadi kerjaanku belum selesai” ucapnya sambil menyunggingkan senyumnya.
Aku hanya tersenyum, menghampirinya dan pergi meninggalkan kampus.
“Aku tau arah rumah kamu, tapi kita ke toko roti dulu ya. Masa aku ga bawa apa-apa ke rumah kamu, inikan first time aku berkunjung ke rumah kamu selama setahun” ucapnya membuka pembicaraan.

Dari tadi aku hanya diam membisu, berat hatiku untuk mengajaknya berkunjung ke rumah menemui mama dan papaku. Aku hanya tersenyum dan mengangguk setuju.
Setelah 60 menit menempuh perjalanan kami sampai di rumahku. Dengan ragu aku melepaskan seatbelt dan membuka pintu mobil. Biasanya jika aku pergi dengannya aku pasti memberanikan diri untuk menggandeng tangannya, tapi kali ini aku tidak melakukannya.

“Kamu duduk dulu aja disini, aku panggil mama dulu ya” ucapku dengan senyum yang agak kaku, mungkin dia merasa berbeda dengan sikapku. Tapi aku tidak memperdulikannya.

Aku menemui mamaku yang berada di ruang kerjanya, aku mencium tangan dan pipi mamaku.
“Hei sayang, kayaknya ada tamu. Teman kamu yang mau berkunjung ke perpustakaan? Sebentar lagi mama turun untuk melihatnya” itulah mamaku, dia selalu antusias jika ada yang berkunjung ke rumah. Tapi aku tidak yakin dia akan setuju dengan kedatangannya.
“Tapi ma, dia bukan sekedar temen. Di…dia….” Belum sempat aku meneruskan kalimatku mama langsung buka mulut dan berbicara.
“Dia pacar kamu? Sayang, mama bukannya ga setuju kamu pacaran. Mama senang kalau ternyata kamu punya pacar dan sudah dewasa. Tapi bagaimana dengan papa kamu? Hal buruk pasti terjadi kalau papamu tahu tentang pacarmu” ucap mamaku tegas, membuka kacamatanya dan menjauh dari meja kerjanya.
“Tapi ma, aku ini udah dewasa. Aku punya pilihan dan dia adalah pilihanku. Lebih baik sekarang mama temuin dia di bawah” ucapku sambil pergi meninggalkan ruang kerjanya.

Rasanya aku ingin menangis meratapi nasibku yang kurang beruntung dari pada orang lain yang cukup dewasa. Papaku masih menganggapku anak-anak yang perlu diatur dan dituntun. Aku tidak boleh memilih jalan hidupku. Semuanya kau lakukan dengan terpaksa, mengikuti keinginan orangtuaku.
Setelah berganti pakaian, aku segera turun menemui dia dan mamaku. Ternyata mereka terlihat akrab sekali. Mama mengerti keadaanku, mama selalu membelaku jika aku dimarahi papa ketika aku berontak.
“Ma, aku ajak dia ke perpustakaanku ya” dengan ragu aku meminta izin pada mama untuk mengajaknya pergi.
“Ya, sayang. Mama juga masih punya pekerjaan” ucapnya sambil pergi meninggalkan kami.
Aku mengajaknya ke perpustakaanku, perpustakaanku tidak terlalu besar. Ada lima rak besar yang tingginya dua meter  dipenuhi buku-buku koleksiku. Sebuah meja panjang untuk membaca yang menghadap ke luar jendela dan memiliki pemandangan indah. Disudut kiri sebelah rak buku aku letakkan piano kesayangan mamaku. Di sudut yang tidak ditempati rak aku letakan bunga setinggi tubuhku. Aku memajang lukisan mawar dan beberapa fotoku didinding. Aku suka membaca, menulis, fotografi dan music. Aku membuat perpustakaan ini untuk sebuah hobi.

“Ini perpustakaanku, aku biasa belajar disini. Ini ruangan yang paling aku suka di rumah ini selain taman belakang” aku berusaha tidak canggung menghadapinya.
“Amazing, ternyata pacarku bukan orang biasa. Kamu hebat!” ucapnya memujiku.
“Anggap rumah sendiri, bukannya kita ga cuma temenan? Kita udah setahun loh” ucapku agar dia nyaman berada di ruanganku.
“Iya sayang” kemudian dia mengecup keningku.

Tidak sedikit kenanganku bersamanya, dia selalu meluangkan waktu untuk berkunjung ke rumahku dan diam di perpustakaanku. Kami banyak menghabiskan waktu di ruang perpustakaanku. Dia melihat-lihat semua koleksi bukuku, membaca cerita yang aku buat, membantu tugas-tugas kuliahku, bahkan kami pernah bertengkar hanya karena berbeda pendapat mengenai buku yang kami baca.

My room (26/04)
Aku merasa jauh setelah kami melewati 14 bulan, banyak perubahan. Mungkin karena kita sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Dua hari lalu tepatnya hari kamis adalah hari ulang tahunnya. Aku hanya sempat mengucapkan lewat sms. Aku rangkai kata-kata seromantis mungkin untuknya, tapi kau tahu apa? Dia hanya menjawab seperlunya pada pukul 05.00 pagi, padahal aku tahu tengah malam tadi dia belum tidur. Aku tahu dia sedang pergi dengan teman-temannya.

Aku lupakan masalah sepele itu, aku anggap dia memang baru membacanya pada pukul 05.00 pagi. Kami kehilangan komunikasi, jarang sekali aku mengetahui kabarnya. Tapi kadang dia berkunjung ke rumahku dan diam di perpustakaan,  wajahnya terlihat lelah seperti sedang tertimpa masalah. Aku berusaha mengerti keadaannya, aku urungkan niatku untuk menanyakan tentang hubungan kita yang mulai renggang. Aku menahan semua kekesalanku dan melupakan masalah yang begitu banyak.

Aku baru sempat merayakan ulang tahunnya hari sabtu, karena aku sibuk dengan kuliahku. Aku memintanya untuk datang ke rumahku, aku memintanya untuk membantu tugas-tugasku. Padahal aku tidak ada tugas yang harus dibantunya, kau hanya ingin merayakan ulang tahunnya.
“Halo”
“Aku agak telat ya, masih ada kerjaan. Tapi aku pasti datang”
“Iya gapapa ko, aku tunggu. Semangat ya! Aku tunggu pokoknya” tanpa menjawab perkataanku dia langsung memutuskan teleponnya.
Sudah pukul delapan malam, dia belum datang juga. Aku putus asa dan kecewa, semuanya sudah aku siapkan untuk merayakan ulang tahunnya walaupun sudah terlambat. Aku menangis, dia tidak bisa dihubungi.

***
Aku tidak lepas dari laptopku, aku memonitoring ‘mereka’ selama 24 jam, selama ini aku menangis menahan sakit atas tingkah ‘mereka’. Aku ingin tertawa dan menangis menyaksikan ini semua. Rasanya sesak tapi aku ingin tertawa.

Usiaku dengan mereka memiliki selisih yang cukup jauh. Usiaku belum 19 tahun dan mereka sudah cukup dewasa bahkan memang sudah dewasa. Tapi apakah seperti ini tingkah orang dewasa? Apakah orang dewasa tidak memiliki perasaan? Bagaimana pola fikir mereka sebagai orang dewasa?

Aku sudah lelah dengan semuanya, dan inilah puncaknya. Aku sangat lelah, aku menutupi semua kesalahannya, aku selalu menganggap semuanya baik-baik saja. Aku pura-pura tegar dan sabar, tapi dalam diriku.. aku sungguh lemah sekali. Aku tidak ingin mencari masalah walaupun masalah itu datang sendiri,  aku selalu mengalah dan mengaku bersalah walaupun sebenarnya dia yang bersalah dan dialah seharusnya minta maaf.  Dia tidak pernah mau menyelesaikan masalahnya, dia selalu lari dari masalah dan aku selalu mengalah.

Aku mengakui kesalahannya, aku mengalah padanya, dan aku tidak pernah menunjukan kekesalanku. Aku selalu sabar dan mengalah. Tapi apa balasannya? Dia malah menyakitiku, dia tidak menghargai perasaanku dan tidak menghargai posisiku.

Dia lebih mementingkan DIA dari pada aku, dia hanya membela dan menjaga perasaannya pada DIA. Dia tidak pernah memandangku, dia hanya memikirkan DIA.

Aku tidak tahu dengan pola fikirku tentang ini, mungkin banyak orang yang menyerah jika mereka ada diposisiku, jika mereka mengetahui kisahku. Tapi aku? Aku sendiri tidak tahu apa yang membuatku bertahan dengan rasa sakit ini. Yang ada dalam benakku adalah tetap bersabar, bertahan walaupun itu menyakitkan.

Aku tahu lambat laun perpisahan itu akan terjadi, karena itu merupakan bagian dari sebuah pertemuan. Tapi aku belum siap dan mungkin aku tidak akan pernah siap dengan apa yang akan terjadi nanti. Mungkin lebih banyak kesedihan yang diberikannya dari pada kebahagiaan yang aku inginkan. Tapi aku tetap bertahan, apa aku salah?
Apa aku salah mempertahankannya?
Apa aku salah mengalah pada orang seperti dia?
Apa aku salah kalau aku mengharapkan sesuatu yang bisa diberikannya?
Setiap orang menginginkan kebahagiaan dan berharap yang terbaik untuk hubungan mereka. Tapi kami? Entahlah, kami sibuk dengan urusan masing-masing.
Aku tidak mengerti, aku sudah mengalah, dan memang selalu mengalah. Aku tidak pernah menyalahkannya walaupun itu merupakan kesalahannya. Aku selalu mengakui itu adalah salahku walaupun aku tidak melakukan kesalahan itu. Tapi semuanya sia-sia! Disaat aku tertekan dan sangat membutuhkannya dia malah pergi, dia lebih memilih membela DIA dari pada aku. Dia selalu ada untuk DIA, sedangkan aku? Dia tidak pernah ada untukku walaupun aku aku sangat membutuhkannya.

Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi dan menyelesaikannya. Tidak ada celah sedikitpun untuk bisa lolos dari masalah ini. Tidak kusangka ternyata dia menyuruh orang lain untuk mengakhiri semuanya. Tidak kusangka ternyata dia sepengecut itu, aku fikir dia sebagai orang dewasa bias mengatasinya, aku fikir dia memiliki hati dan perasaan yang lembut. Ternyata aku salah!

Aku lebih kuat dan tidak pengecut seperti dia, aku lebih tegar! Aku lebih dewasa sari pada dia dan DIA. Dia telah mencaci maki, menggoreskan luka yang sangat dalam dihati. Ternyata aku salah telah mengalah, ternyata aku salah telah mempertahankannya. Aku salah! Aku salah! Tidak ada balasan darinya, hanya luka yang dia berikan. “dia tidak pernah mencintamu! Dia tidak pernah menyayangimu!” itulah hal yang aku fikirkan.
Aku hanya membuang-buang waktu dan tenagaku. HIDUP INI SINGKAT SAYANG. AKU MATI RASA. AKU TRAUMA. AKU SAKIT!
Apa yang kamu fikirkan?!

All, everything that I understand, I understand only because I love - Leo Tolstoy 

No comments:

Post a Comment